TIMES KALBAR, MAJALENGKA – Di bawah langit pagi yang hangat di Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, denyut perayaan Hari Jadi Majalengka ke-186 terasa hidup. Tawa warga berpadu dengan langkah-langkah ringan peserta gerak jalan santai, sementara di sudut lain, senyum haru mewarnai pelaksanaan khitanan massal, Selasa, (27/1/2026).
Salah satu momen paling menyentuh hadir dari kegiatan khitanan massal. Sebuah sejarah baru tercatat, ketika seorang peserta berusia 26 tahun, seorang mualaf, dengan penuh keyakinan mengikuti prosesi khitan.
Sebuah langkah spiritual yang menggetarkan, sekaligus memperkaya makna peringatan hari jadi Majalengka tahun ini.
Perayaan tahun ini tidak hanya berlangsung di satu titik. Pemerintah Kabupaten Majalengka juga akan menggelar rangkaian kegiatan besar yang tersebar di tiga wilayah: Majalengka Selatan, wilayah Tengah, dan wilayah Utara.
"Pembagian lokasi ini menjadi simbol bahwa pesta rakyat benar-benar merangkul seluruh penjuru daerah," ujar Bupati Majalengka, H Eman Suherman.
Perubahan Fakta Sejarah
Lebih dari sekadar perayaan, menurut Bupati Eman, Hari Jadi ke-186 Majalengka membawa pesan penting tentang perubahan penetapan tanggal lahir daerah. Selama puluhan tahun, masyarakat mengenal hari jadi Majalengka jatuh pada 7 Juni.
Namun, hasil penelusuran sejarah terbaru membuktikan fakta baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara yuridis dan akademis. Berdasarkan kajian arsip yang tersimpan di Denhak dan Arsip Nasional, ditemukan bahwa Kabupaten Majalengka resmi berdiri pada 11 Februari 1840.
Dengan dasar tersebut, kata dia, usia Majalengka pada tahun 2026 kini dihitung menjadi 186 tahun, bukan lagi 536 tahun sebagaimana cerita rakyat yang selama ini berkembang.
Momentum perayaan yang akan digelar di tiga wilayah ini sekaligus menjadi sarana sosialisasi kepada masyarakat, bahwa mulai tahun ini dan seterusnya, Hari Jadi Kabupaten Majalengka akan diperingati setiap tanggal 11 Februari.
Beragam Kegiatan Disiapkan
Rangkaian kegiatan yang disiapkan pun tidak main-main. Mulai dari olahraga, bakti sosial, kegiatan keagamaan, hingga pelestarian budaya akan terus digulirkan. Prinsipnya jelas, kegiatan harus murah, meriah, efisien, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung pada 11 Februari 2026.
Tak hanya itu, agenda sosial turut diperkuat melalui operasi katarak gratis, pembagian sembako, serta penguatan kepedulian sosial. Pemerintah menegaskan bahwa perayaan hari jadi bukan untuk membebani masyarakat, melainkan menjadi momentum membangun solidaritas sosial.
Program infak dan sedekah Gema Insan kembali dihidupkan, dengan semangat "dari rakyat, untuk rakyat". Masyarakat diajak menumbuhkan kesadaran kolektif, saling berbagi meski dari nominal sederhana, agar manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh warga yang membutuhkan.
Di sisi lain, sektor budaya dan sejarah juga menjadi perhatian. Pemerintah berencana mengangkat kembali potensi wisata, situs sejarah, serta tradisi lokal sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya Majalengka.
"Upaya ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan langkah strategis untuk mempublikasikan identitas daerah dan memperkuat kebanggaan masyarakat," ucap Bupati Eman Suherman
Hari Jadi ke-186 Kabupaten Majalengka bukan hanya tentang usia yang bertambah. Ia adalah kisah tentang pembaruan sejarah, penguatan nilai sosial, dan semangat kebersamaan yang terus menyala, mengikat masa lalu, meneguhkan hari ini, dan menuntun langkah menuju Majalengka 'Langkung SAE'. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Dari Langkah Santai hingga Cahaya Kebersamaan, Majalengka Rayakan Usia 186 Tahun
| Pewarta | : Jaja Sumarja |
| Editor | : Ronny Wicaksono |